Menyusuri Kehidupan Di Sebuah Desa

Tepat satu tahun yang lalu saya mendapatkan sebuah pengalaman ketika melakukan perjalanan ke sebuah desa nan jauh disebuah pulau. Bukan merupakan perjalanan wisata ataupun sekedar hiburan semata. Merupakan sebuah rangkaian kegiatan akhir tahun kampus, yaitu kegiatan Bakti Sosial. Kebetulan pada saat itu saya terlibat disana dan  bersama salah salah satu teman berinisiatif untuk melakukan survey sebelum melaksanakan kegiatan. Dan target tempat yang akan kami kunjungi adalah sebuah desa yang terletak disebuah pulau yang  jauh, desa yang sungguh sangat tertinggal. Kenapa kami memilih pedesaan sebagai target ? Karena desa-desa terpencil apalagi yang jauh dari keramaian pasti  keadaan nya tidak sebanding dengan keramaian kota dengan berbagai fasilitas yang oke. Dan tepat sekali tujuan kami, sesuai dengan apa yang kami bayangkan sebelumnya.  Bahkan untuk menempuh perjalanan kesana pun,harus menggunakan kapal kecil yang disebut Feri (kapal penyeberangan).

Desa tersebut adalah Tamban, lebih tepatnya kami akan berkunjung ke desa Tamban Muara Batola Kalimantan Selatan. Sesampainya didermaga perjalanan masih dilanjutkan dengan menempuh jarak 3 km dengan menyisiri jalan setapak yang penuh dengan benjolan, lubang, hancur. Tak ubahnya bagaikan kubangan lumpur.

jalan_setapak

• satu-satunya akses jalan menuju rumah kepala desa •

Setelah sampai ditempat yang menjadi target, kami bermaksud menemui Kepala Desa (Pambakal). Lagi-lagi kami dihadapkan dengan perjalanan yang sama, tak sedikitpun ada jalan mulus yang bisa dilalui, bahkan ini lebih parah. Untuk menuju ketempat Pambakal saja (yang tiak lain sebagai pemimpin desa) seperti ini. Kami sadar mereka tidak berdaya, mereka tidak mampu untuk membangun serta memperbaiki desanya tanpa ada bantuan, tanpa kuncuran dana. Mereka tergolong rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan.
Bagaimana dengan Pemerintah?? Apakah Kalian Mati Suri? Atau mungkin sudah lupa bahwa memiliki sebuah bahkan beberapa desa yang jauh disebuah pulau sana.

Setelah bertemu dengan Pambakal dan banyak medapatkan Informasi mengenai keadaan Desa. Kami merasa sangat simpati dengan keadaan Desa itu. Dan dari Informasi yang ada dapat disimpulkan bahwa, Pemerintah seolah-olah lupa bahkan tidak tahu bahwa masih banyak daerah-daerah dipesisir pulau nan jauh disana yang masih tertinggal jauh pembangunannya.

Sebenarnya mereka sudah lama mengajukan surat kepada Pemerintah untuk melakukan perbaikan dan perawatan jalan , serta rehabilitasi untuk sekolah. Dana BOS dari Pemerintah Pusat hanya cukup untuk memberi gaji kepada guru-guru pengajar. Sedangkan untuk perawatan sekolah tidak cukup.Padahal sekolah tersebut sudah sangat rapuh, bagaikan sebuah gudang, dinding-dinding yang sudah berlobang, jendela yang tak karuan bentuknya, lemari yang tak ada fungsi karena sudah hancur, hanya pajangan yang membuat orang merasa iba melihatnya. Tak ada nya plang / Identitas sebuah kelas, bahkan yang paling menyedihkan mereka tidak pernah sekalipun melaksanakan Upacara Bendera yang seharusnya wajib dilaksanakan, berhubung mereka tidak mempunyai lapangan.

Sebelum mengakhiri perjalanan survey saya menyempatkan mendokumentasikan beberapa foto untuk dijadikan bukti yang bisa dikaji dan dipikirkan bersama oleh kami selain untuk kegiatan Bakti sosial serta juga untuk disampaikan dan  menaruh harapan kepada  Pemerintah untuk kiranya bisa membantu.

dinding

•Dinding yang penuh Lubang •

jendela

• Jendela kawat dan lemari yang rusak •

meja

• Kursi dan meja Yang kusam •

sd

• SD Negeri Tamban Muara 2 Batola Kalimantan Selatan •

Dan hari ini tepat satu tahun saat pertama kali saya mengunjungi desa tersebut.  Ingin rasanya kembali kesana melihat perubahan apa yang terjadi setelah satu tahun kunjungan kami dengan sedikit saran dan bantuan baik berupa materil maupun moril untuk membantu agar desa tersebut bisa merasakan hidup nyaman dan berkembang seperti layaknya orang yang hidup dikota.

Sungguh malang desa tersebut, jauh dari yang saya bayangkan sebelumnya.
Ternyata disisi setiap kehidupan selalu ada saja yang kurang.
Tapi yang diharapkan sebenarnya adalah bagaimana kita bisa memperbaiki kekurangan itu untuk menjadi yang lebih baik.

Semoga mereka yang masih  “Mati Suri”  sampai saat ini tergerak hatinya untuk segera membangun dan memperbaiki keadaan tersebut.

Comments (55)

niaDecember 19th, 2009 at 8:06 pm

menyedihkan memang.. untuk desa2 terpencil yang belum tersentuh atau sengaja tidak disentuh oleh pemerintah bukan hanya di sana. masih ada desa2 terpencil lainnya..

mudah2an saja ada pejabat berwenang yang membaca postinganmu ya Zal, sehingga desa tersebut menjadi prioritas.. jika dalam kurun waktu setahun yang udh berlalu belum juga berubah keadaannya..

benar sekali mba, itu hanya salah satunya saja yang berhasil terlihat, masih banyak lagi yg belum terlihat. 0_0
padahal sebenarnya mereka melalui Kepala Desa sudah mengajukan proposal perbaikan jalan dan pemeliharaan lingkungan, namun masih belum ditanggapi, entah lah setelah satu tahun ini apakah permohonan mereka diterima ..? :?: 0_0

ReplyReply
elmoudyDecember 20th, 2009 at 1:20 am

inget waktu KKN dulu…
suasananya mirip banget ama gambaran di atas..
ternyata memang banyak kondisi seperti itu,,
yaa.. harus pemerintah laah yang wajib membuat perubahan yg berarti

memang banyak banget ternyata …
yahh begitulah keadaanya, kalau bukan dari kita siapa lagi yang akan memberitahukan kepada pemerintah bahwa masih banyak daerah2 yang jauh tertinggal kehidupannya …

ReplyReply
DangstarsDecember 20th, 2009 at 1:29 am

Sudah selayaknya mendapatkan perhatian,dari Instansi terkait

iya betul Kang Dadang, layak dan pantas

ReplyReply
genDecember 20th, 2009 at 1:33 am

Memang pembangunan di negeri ini belum sepenuhnya merata, ini masih menjadi PR buat pemerintahan kita sekarang..!

mudahan scepatnya PR 2 itu dapat diselesaikan yaa ;)

ReplyReply
warmDecember 20th, 2009 at 5:52 am

smoga besok smua mata dan hati lebih terbuka,
potret pendidikan di kampung yg jarang dilirk orang2 yg sok kota :(

ReplyReply
YolisDecember 20th, 2009 at 6:57 am

miris banget yaahh… pemerintah setempat seharusnya lebih memerhatikan lagi dong, jangan yg dibangun tuh daerah perkotaan mulu… desa2 yg seperti itu bisa menjadi asset besar bagi negara…

ReplyReply
julieDecember 20th, 2009 at 9:20 am

masih banyak sekokah2 dengan keadaan seperti itu di daerah terpencil tak mengerti apa memang pemerintah yang menutup mata atau memang tak tau

ReplyReply
iezulDecember 20th, 2009 at 10:20 am

iyaa….betul zal,
tapi itu lumayan bagus,,,coba ke daerah pegunungan…wahh murid2nya malah gak semangat sekolah dengan alasan “gurunya kada datang jua”…..

ReplyReply
iezulDecember 20th, 2009 at 10:23 am

sekali lagi “wahhh gagah theme blog kita nah”…kayapa maulahnya zal,

ReplyReply
alisnaikDecember 20th, 2009 at 12:21 pm

selamat pagi

kalau dana bank Century dialirkan ke desa pulau terpencil ini,
mungkin bisa berubah menjadi Batam atau Singapura.
aah, imajinasi saya terlalu tinggi.
semoga mereka bisa mendapat yang lebih baik lagi.

terima kasih dan mohon maaf :o

ReplyReply
Khery SudeskaDecember 20th, 2009 at 1:33 pm

Selalu ada hikmah saat kembali ke desa, membangun kembali kepekaan nurani. Kita juga tak ingin desa menjadi kota, tapi infrastruktur desa harus tetap diperhatikan.

Btw, saya suka sekali dengan emoticon yang :banana:

ReplyReply
fauzikunDecember 21st, 2009 at 4:32 am

ternyata masih banyak Sekolah-sekolah yang masih belum mendapat perhatian dari pemerintah,
lalu kemana saja kerja pemerintahan sekarang ini???

ReplyReply
aidicardDecember 21st, 2009 at 9:57 am

kalo dipikir, dengan keadaan seperti itu mana mungkin UN dilaksanakan sama rata di seluruh Indonesia.
:( jadi makin prihatin dengan kualitas pendidikan dan penegakan hukum di negeri ini…

ReplyReply
mamah alineDecember 21st, 2009 at 6:04 pm

prasaran dan infrastruktur daerah di luar jawa sepertinya harus lebih diperhatikan dengan layak,prihatin liat foto-foto itu

ReplyReply
masnurDecember 21st, 2009 at 6:58 pm

Saya 5 tahun di kaltim dan sering meneluduri proyek di daerah terpencil, ya kayak yang diuraikan diatas. Sangat memprihatinkan. Sudah hutannya digunduli, rakyatnya “terabaikan”. Miris melihatnya, meskipun nggak semuanya tapi mayoritas sangat jauh dari kata layak.

ReplyReply
tutehDecember 22nd, 2009 at 8:45 am

Membaca tulisannya, liat fotonya, jadi inget juga sama Laskar Pelangi hehehe…
:ampun:
Semoga tulisan ini bisa menggugah orang2 yang berkepentingan untuk memajukan desa dan sekolah2 tersebut. Atau siapapun yang mau membantu… dengan cara mengumpulkan koin, barangkali? :)

ReplyReply
wi3ndDecember 22nd, 2009 at 10:33 am

miris klu liat sekulah sekulah masih ada bahkan banyak yan9 bocor dan rusak b9itu..

jalanannya ju9a masih susah yah?

jadi in9et dikampun9 hehhe

ReplyReply
aapDecember 22nd, 2009 at 11:05 am

Ya begitulah potret pendidikan kita

ReplyReply
ALRISDecember 22nd, 2009 at 3:17 pm

Saya ikut terenyuh liat kondisi sekolah kayak begini. Padahal Kalsel daerah kaya, apalagi kondisi sekolah daerah minus ya. Salam

ReplyReply
julieDecember 22nd, 2009 at 4:25 pm

berkunjung lagi :D

ReplyReply
dobleh yang malangDecember 22nd, 2009 at 5:07 pm

blue menyukai postinganmu ini,kawan
salam hangat selalu

ReplyReply
Siti Fatimah AhmadDecember 23rd, 2009 at 3:01 am

Assalaamu’alaikum

SELAMAT HARI IBU ini ku tujukan buat:

1. SAHABATKU ….SEORANG IBU
2. IBU KALIAN
3. ISTERI KALIAN

SAHABAT,
MENGERTILAH BAHAWA…..

Hati IBU bagaikan jurang yang didasarnya selalu ada maaf
Di sisi IBU adalah tempat yang paling aman
Cinta IBU tidak pernah lapuk
Cinta IBU adalah yang laing baik daripada segalanya.

# KEPADA SAHABAT DAN PEMBACA YANG BERADA DI LAMAN SAHABATKU INI… Semua anda dijemput ke LAMAN MENULIS GAYA SENDIRI untuk menerima HADIAH AWARD –AWARD ISTIMEWA dari saya sempena menyambut SELAMAT HARI IBU di Indonesia.

Dengan segala hormatnya saya mempersilakan anda sekelian menerimanya sebagai tanda ketulusan hati SEORANG SAHABAT yang mencintai kalian.

Selamat Tahu Baru Hijriyyah 1431 dan Selamat Tahun Baru 2010
Salam mesra dari BANGI, MALAYSIA.

-SITI FATIMAH AHMAD –
22 Disember 2009/RABU

ReplyReply
dobleh yang malangDecember 23rd, 2009 at 2:05 pm

saatnya bersemangat
salam hangat selalu :lover: :lover:

ReplyReply
CloudDecember 23rd, 2009 at 8:39 pm

iya tuh,, malah uang 6 triliun hilang tanpa bekas.. klo dipake buat benerin malah jadi bagus kan.. hohoo

ReplyReply
dhodieDecember 24th, 2009 at 4:03 am

Tanda bahwa pembangunan masih belum tersebar merata ya bro 0_0

ReplyReply
nisaDecember 24th, 2009 at 7:46 am

ayo, ke sana lgi… :cicing:

ReplyReply
zulhaqDecember 24th, 2009 at 8:01 am

prihatin juga ngeliatnya

ReplyReply
si Rusa BaweanDecember 24th, 2009 at 11:09 am

semoga terbuka mata hati dan pikiran
:)

ReplyReply
ye2nDecember 24th, 2009 at 4:46 pm

kirain sekolah seperti itu sudah nggak ada, ternyata lebih menyedihkan keadaannya . . :(
semoga pemrintah nyadar kalau rakyatnya masih ada yang belum kecipratan uang negara . . :roll:

ReplyReply
Zian X-FlyDecember 25th, 2009 at 1:16 am

Sebagai orang Batola, terus terang: supan!
Tapi Tamban babagus dah wayahini… Haha…

ReplyReply
DidienDecember 26th, 2009 at 5:36 pm

tidak di pungkiri bahwa pemerintah pusat dan pemda masih terpaku pada satu tempat dalam proses pembangunan…padahal masih byk daerah2 yg sangat perlu di bangun…*prihatin* :roll:

salam, ^_^

ReplyReply
CarideDecember 26th, 2009 at 5:38 pm

mudah2an pemerintah akan membuka mata, masih banyak daerah2 yg memerlukan bantuan dalam pembangunan daerah yg jauh dari pusat perkotaan :ampun:

ReplyReply
d-GadgetDecember 26th, 2009 at 5:39 pm

siapa bilang Indonesia sudah merata dalam pembangunan..masih byk tempat2 yg jauh dari sentuhan pemerintah pusat atopun pemerintah daerha..bahkan cenderung di biarkan seolah tidak melihat… :sorry:

ReplyReply
tutehDecember 29th, 2009 at 4:53 am

Update… :banana: Btw banyak emot2 lucu di sini hheheh dari plurk juga banyak :mrgreen:

ReplyReply
PaiDecember 31st, 2009 at 10:14 am

waaaah, harus segera ditanggulangi nih. bukankah untuk desa2 terpencil seperti ini sudah ada anggaran pembangunannya???? kemanakah dana itu? mari kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

ReplyReply
eddaJanuary 1st, 2010 at 2:53 pm

semakin miris aja ya ngliatnya
klo bkn kita sendiri yg turun tangan
siapa lg? :(

ReplyReply
royJanuary 2nd, 2010 at 1:13 am

T_T jadi inget tempat orang tuaku tinggal sekarang… di pedalaman.. di perkampungan di tengah perkebunan sawit…… hix hix….

ReplyReply
sennyJanuary 2nd, 2010 at 6:21 am

gimana sih rasanya hidup di desa yang kayak gt?
karena kayaknya pertengahan tahun ini gue hrs stay di desa terpencil selama 2 bulan nih

ReplyReply
and1kJanuary 3rd, 2010 at 3:52 am

saya kalo liat sd nya kayak film laskar pelangi :cry:

ReplyReply
tutehJanuary 3rd, 2010 at 6:16 am

Happy NEW YEAR 2010, my bro & sis…

Best for you,
Best for me,
Best for world…

Amin. :ampun:

ReplyReply
dobleh yang malangJanuary 3rd, 2010 at 3:30 pm

semoga y kawan
salam hangat dari blue

ReplyReply
alisnaikJanuary 4th, 2010 at 2:09 pm

selamat pagi

sekedar kembali ke sini untuk menjalin tali silaturahmi dunia maya.
bagaimana kabar anda, bung ??
semoga sehat selalu

terima kasih dan mohon maaf

ReplyReply
QieJanuary 6th, 2010 at 6:12 am

inget zaman SD sayh dulu hampir seperti itu

ReplyReply
iyoongJanuary 7th, 2010 at 3:25 pm

Semoga cepat di ambil kebijakan yang nyata buat desa tersebut :ampun:

ReplyReply
sastyJanuary 9th, 2010 at 9:23 am

kalo dilihat sekali lagi, kadang kasihan juga negeri kita ini. Tak hanya masalah korupsi, sama rakyat yang masih di daerah terpencil saja masih banyak yang belum selesai. 0_0
ini memang PR buat pemerintah.

ReplyReply
kezedotJanuary 9th, 2010 at 11:36 am

met bermalam mingguan kawan
salam dalam kehangatan musim

ReplyReply
soulharmonyJanuary 14th, 2010 at 6:36 am

from Tamban with Love

ReplyReply
RizalJanuary 14th, 2010 at 12:59 pm

Maaf buat teman2 semua tidak bisa balas satu2, lagi dikejar dateline Laporan PKL yg tinggal satu minggu lagi .. :( :mikir:

ReplyReply
squidyJanuary 19th, 2010 at 4:58 am

terpencil sekali daerahnya ya.:D

ReplyReply
cakbudJanuary 20th, 2010 at 12:45 pm

salam kenal..

salah satu potret pendidikan Indonesia .. :)

Didaerah seperti ini apakah UNAS tetap dijadikan satu-satunya tolok ukur kelulusan?
saya setuju UNAS diberlakukan, karena bagaimanapun juga kita perlu standar ukuran mutu pendidikan nasional, tapi menurut saya pemerataan sarana dan prasarana pendidikan harus lebih didahulukan..

ReplyReply
chesya rinduJanuary 25th, 2010 at 2:56 am

Aku adalah gadis desa…tapi desaku sangaaat indah…sokolah SD ku dulu ada taman bunga yang tersusun rapi dan indah…!!!

kenapa desa2 di jawa lebih diperhatikan daripada di KALIMANTAN,yaaa?

ReplyReply
pelintas batasJanuary 30th, 2010 at 1:58 am

prinsip pemerintah dan orang yang duduk dipemerintahan itu sudah sangat jelas.biarlah rakyat menderita,yang penting saya senang.itulah prinsip mereka

ReplyReply
dobleh yang malangFebruary 27th, 2010 at 4:50 pm

semoga banyak dari pemerintahan yg membaca postingan ini
dan selalu memajukan pendidikan di berbagai tempat
salam hangat dari blue

ReplyReply
hanif IMFebruary 28th, 2010 at 5:27 am

saya juga pernah jalan2 ke desa kalimantan. yah, saya sendiri juga orang sna. namun lebih mengkhawatirkan karena jauh dari akses luar jika terjadi apa-apa di desa.

ReplyReply
taryMarch 3rd, 2010 at 6:38 am

di tempatku malah lebih parah mas, banyak anak putus sekolah akibat sulitnya transportasi yg menghubungkan desa tsb.

ReplyReply

Leave a comment

Your comment